Buscar

Rona Bahagia


Walimahan Mbak Deppi

Hari bahagia itu datang juga
Hari dimana seluruh bunga bertabur di dalam kamarmu
Hari dimana kau tak lagi merasakan dinginnya malam
Hari dimana kau duduk dalam ayunan bersemilir angin
Menghisap seluruh udara tanpa noda

Misteri Illahi tak terpecahkan
Mimpi – mimpi dunia fana tak terelakkan
Cahaya itu kini mulai nampak
Menunjukkan sisi dunia yang tak lagi temaram

Sang pujangga berdiri mematung
Melantunkan syair-syair keabadian dalam diamnya
Dengan melodi  yang mampu menghapus jiwa – jiwa karam
Menjadi jiwa – jiwa penuh pesona berbalut rona bahagia

Inilah hari itu, hari ketika jiwa dan doa terpaut
Dalam indahnya keheheningan malam jingga


Bencana dan Muhasabah (#PrayForKelud)



Aku di tengah hujan abu

Tanggal 14 Februari, mungkin bagi sebagian orang merupakan tanggal keramat untuk mengabadikan momen cinta terhadap pasangan. Tapi untukku, tanggal 14 Februari kali ini merupakan sebuah momen untuk ber-muhasabah kepada Allah SWT.

Pagi yang tidak dingin sebenarnya, pukul 05.00 WIB. Adikku berteriak-teriak, ‘Bu, kata temenku sekarang hujan abu dari Gunung Kelud’. Aku hanya berpikir, wow memang dimana Gunung Kelud itu? Jarang sekali aku mendengarnya, asing di telingaku. Aku ikut-ikutan menge-check hapeku siapa tahu ada juga yang mengabariku tentang hujan abu. Benar, ada sebuah sms isinya ‘Gunung Kelud meletus, ayo do tahajud!’, tertulis jam 03.20 WIB. Wah sedahsyat apa sih hujan abunya, mengingat waktu hujan abu 2010 dari Gunung Merapi dulu hingga hujan pasir. Jadi penasaran pengin keluar.

Astagfirullah, setelah keluar rumah ternyata hujan abu sangat deras mengguyur di halaman hingga 2 cm. Baru ku tahu Gunung Kelud ada di Jawa Timur yang jauhnya sekitar 200 km dari Jogjakarta. “Semoga tidak terjadi sesuatu yang parah Yaa Robb”. Mrinding sekali diriku, hanya membayangkan betapa dahsyatnya letusan Gunung itu hingga efeknya luar biasa di Jogja.

Bencana Itu..... (Sabar dan Syukur)

Seorang nenek membersihkan dan mengumpulkan abu
Gunung Kelud yang meletus di Kediri Jawa Timur ini memang tak terduga, maksudku tak kusangka akan berdampak sangat besar untuk wilayah-wilayah yang jauh sekalipun. Banyak orang yang menganggap ini sebagai ujian untuk manusia, ada juga yang menganggap bahwa ini sebagai musibah, ada juga yang menganggap bahwa ini adalah azab untuk manusia. Wallahualam.

Saya pribadi menganggap ini memang sebuah bencana alam yang cukup besar dan sebagai sebuah peringatan dari Allah untuk semakin kuat mengimaninya. Dalam surat Ali Imran : 146 disebutkan “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar”.

Subhanallah betapa kuatnya militansi pengikut nabi untuk terus berjuang membela Islam walaupun terjadi bencana. Jika memang ingin disayangi Allah, ada caranya menghadapi bencana yaitu SABAR.

Dalam Surat lainnya yaitu Al An’Am : 63. Katakanlah : “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut (dengan menyatakan:”Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana)ini, tentulah kami menjadi orang yang bersyukur””.

Tidak mungkin Allah mengirimkan sebuah bencana tanpa alasan. Tidak mungkin Allah mengirimkan bencana tanpa penyelesaian. Tidak mungkin Allah memberikan bencana terus menerus kan? SYUKUR tak henti-henti terucap dari ayahku ketika sudah 2  hari abu bertebaran menyesakkan nafas kami dan di hari ketiga hujan air mengguyur seluruh halaman dan jalanan. Bila di analogikan mungkin seperti seorang musafir yang kehabisan air saat berjalan di padang pasir kemudian menemukan sebuah oase. Sangat bahagia bukan? Tenag saja, segala penyakit ada obatnya, segala bencana Allah lah yang akan menghapusnya. Laa Tahzan, Innaloha Ma’ana.

Sejenak menengok ke surat Al’Maidah : 168. “Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; diantaranya ada orang orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)”.

Dari ayat di atas sebenarnya antara orang yang saleh maupun yang tidak saleh cobaan yang diterima sama saja. Entah itu cobaan yang berupa nikmat maupun cobaan yang berupa bencana. Dan sudah jelas, segala cobaan baik yang nikmat maupun bencana itu sebuah alasan dari Allah agar kita kembali pada kebenaran. Kebenaran yang seperti apa? Tentu saja kebenaran yang bersumber pada Al Quran dan Al Hadist. Subhanallah.

Muhasabah

Abu berterbangan ketika kendaraan lewat
Seperti dalam sebuah perumpamaan ‘tak ada asap tanpa api’. Begitu juga dengan bencana ini, tak ada akibat tanpa ada sebab. Coba simak hadist di bawah ini, ada 15 perkara yang menyebabkan datangnya bencana:

Dari Ali bin Abi Thalib RA berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, maka halal baginya ditimpakan kepada mereka bencana”. Ditanyakan, apakah lima belas perkara itu wahai Rasulullah? Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila harta rampasan perang (maghnam) dianggap sebagai milik pribadi; amanah (barang amanah) dijadikan harta rampasan; zakat dianggap sebagai cukai (denda); suami menjadi budak istrinya (sampai dia); mendurhakai ibunya; mengutamakan sabahatnya (sampai dia); berbuat zalim kepada ayahnya; terjadi kebisingan dan keributan di dalam masjid (yang bertentangan dengan syari’ah); orang orang hina, rendah, dan bejat moralnya menjadi pemimpin umat (masyarakat); seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya; minuman keras (khamr) tersebar merata dan menjadi kebiasaan; laki-laki telah memakai pakaian sutera; penyanyi dan penari wanita bermunculan dan dianjurkan; alat-alat musik merajalela menjadi kebanggaan atau kesukaan; generasi akhir umat ini mencela dan mencerca generasi pendahulunya; 

Apabila telah berlaku perkara-perkara tersebut, maka tunggulah datangnya malapetaka berupa; taufan merah (kebakaran), tenggelamnya bumi dan apa yang di atasnya kedalam bumi (gempa bumi dan tanah longsor), dan perubahan-perubahan atau penjelmaan-penjelmaan dari suatu bentuk kepada bentuk yang lain” (HR.Tirmidzi)

 Astafirullah, astagfirullah, astagfirullah.... apakah ke lima belas perkara tersebut sudah terjadi di sekitar kita? Apakah memang pantas kita mendapatkan bencana? Mari bermuhasabah bersama.

Laa Illaha Illallah.........

Ini video hasil rekaman kami (saya dan adik) tentang suasana paska hujan abu di Jalan Prambanan-Piyungan Yogyakarta.
 

Mitsaqon Galidza


Jari – jari ini tak sanggup lagi terangkat untuk memohon, pipi ini juga mulai basah dan bersembab mata. Lantunan ayat suci pun tak sanggup ku lafalkan dengan jelas. 

Di pojok kamar sesekali ku menghela nafas panjang, lalu kuhembuskan. Sedang kususun sebuah surat cinta, lewat bait-bait doa dalam sholatku. 

Aku tahu, pasti disana dirimu juga sama sepertiku. Sibuk membuat surat cinta yang panjangnya tak terukur, dalam bacaan lembar-lembar Quran. Bagiku atau bagimu sama – sama menanti sebuah jawaban dari Tuhan yang sama. Allah. 

Aku tak pernah berharap macam-macam padamu. Yang kuharap hanya satu, baktimu kepada Tuhanmu. Apalah arti ketampananmu, apalah arti kekayaanmu, apalah arti kedudukanmu bila memang tak ada Iman dihatimu. 

Apakah kamu juga memikirkan hal yang sama denganku?

Walaupun kita belum pernah bertemu, bahkan hadirmu masih rahasia untukku. Aku hanya berharap kita berkumpul dalam sebuah mitsaqon galidza yang penuh ridha dan berkah dari Allah.

Trimakasih cinta, sudah membaca suratku ini. :)





Pendidikan dan Pengasuhan Anak



Ini Mulhan, punya kembaran namanya Sulthon
Masih ingatkah kita tentang 3 ciri orang munafik? Yang pertama, berkata dusta. Kedua, jika berjanji mengingkari. Dan ketiga, jika dipercaya, berkhianat.

Di poin ketiga terdapat kata “jika dipercaya, berkhianat”, hal ini merujuk pada salah satu sifat yang harus dimiliki oleh umat Islam yaitu amanah. Seorang yang tidak amanah dapat disebut pula sebagai orang munafik.      Anak merupakah amanah dari Allah yang harus dipertanggungjawabkan. Amanah ini berarti anak tersebut adalah titipan, agar dijaga, agar diberikan pendidikan dan agar diasuh dalam kasih sayang. 

Masih ingatkah kita tentang 3 pahala yang terus mengalir walau kita sudah meninggal? Yang pertama, amal jariyah. Kedua, ilmu yang bermanfaat. Ketiga, doa anak yang sholeh.

Lagi, di poin ketiga terdapat kalimat ‘doa anak yang sholeh’. Doa anak yang sholeh ini akan terus mengalir dan mengisi pundi-pundi pahala untuk orang tuanya walaupun mereka sudah meninggal. Ini berarti anak yang sholeh adalah investasi masa depan untuk orang tuanya di akherat kelak.

Ilmu dan Amanah

Ini Izzy
Dalam pendidikan dan pengasuhan anak, orang tua, guru maupun ustadzah haruslah memiliki ilmu. Ilmu ini wajib dimiliki agar pembentukan karakter dan pola asuh kepada anak sesuai dengan umur dan cara penangangannya. Dalam HR. Tirmidzi disebutkan bahwa ilmu adalah kunci kesuksesan. Ini menunjukkan untuk menuju sukses mendidik anak, diperlukan sebuah ilmu. Tidak mungkin anak akan mampu membaca jika orang tua tidak mengajarinya ilmu membaca, tidak mungkin anak mampu berhitung jika guru tidak memberitahu ilmu berhitung, tidak mungkin seorang anak mampu membaca Al Quran bila ustad/ustadzah tidak mengajari ilmu membaca Al Quran. Dalam ilmu-ilmu yang disampaikan tersebut dapat diambil hikmah dan pelajaran (QS. Al Baqoroh : 269). 

Pentingnya memiliki ilmu ini juga agar manusia tidak taklid, yaitu serta merta mengikuti sesuatu yang belum jelas aturannya. Larangan taklid ini dapat dilihat pada surat Al Isra ayat 36 : ”Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban”. 

Subhanallah, sungguh detil sekali aturan Allah ini. Jadi untuk dapat mendidik anak wajib sekali kita memiliki ilmu. Tetapi perlu diingat bahwa memiliki ilmu yang banyak jangan digunakan untuk menyesatkan orang lain, dan jangan sampai melampaui batas. “.. Siapakah yang lebih dzalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap orang-orang anpa pengetahuan..” QS Al An’am : 144. Naudzubillah, semoga kita dijauhkan dengan sifat tercela tersebut.

Kembali lagi kepada konsep amanah dalam mendidik dan mengasuh anak. Amanah dalam mendidik anak ini wajib dilakukan, karena dengan amanah akan diminta pertanggung jawabannya (HR. Bukhari). Saya jadi teringat berita di televisi beberapa hari lalu tentang pembuangan bayi di selokan, yang kemungkinan besar dibuang oleh orang tua kandungnya sendiri, naudzubillah. Padahal dalam Hadist Shohih Abu Dawud sebagai orang tua yang diberikan amanah, kita tidak boleh menyia-nyiakan anak tersebut. Dan sebagai gantinya bila kita memelihara amanah dengan baik, maka surga lah yang akan menjadi tempat tinggal kita di akherat kelak. 

“Dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya, Dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya, Dan orang-orang yang memelihara shalatnya, Mereka itu dimuliakan dalam surga” (QS. Al Ma’arij : 32-35).

Proses Mendidik Anak

Ini Bintang
Pertama, melalaui keteladanan (qudwah, uswah). Keteladanan ini sangat penting, yaitu dengan cara memberikan contoh kepada anak untuk berbuat baik. Seperti misalnya, seorang ibu yang menyuruh-nyuruh anak untuk segera sholat padahal dia sendiri belum sholat. Tentu saja, si anak tak akan mau untuk mengerjakan sholat. Atau pelarangan anak merokok oleh guru di sekolah, tidak akan mempan bila bapak-bapak guru dengan santainya merokok di taman sekolahan. Ketedeladanan ini menjadi penting, agar anak-anak tanpa perlu diceramahi sudah terbiasa untuk melakukan atau tidak melalukan sesuatu. Lalukan yang baik-baik dulu, agar anak-anak menirunya.

Kedua, melalui pengajaran (ta’lim). Seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa ilmu sangat diperlukan bagi setiap orang agar tidak taklid dan dapat mengambil hikmah serta pengajaran darinya. Anak-anak perlu diajari tentang akhlaq yang baik, berperilaku yang sopan dan juga berbagai ilmu lainnya. Karena saya sebagi ustadzah di TPA maka salah satu cara mengajari anak misalnya membaca Al Quran dengan mengajarkan hukum bacaan Quran seperti : idhar, idghom, iqlab, ataupun ikhfa’ dll.

Ketiga, pembiasaan (ta’wid). Ini penting sekali untuk anak, seperti yang saya lakukan di TPA saya. Dalam kegiatan TPA tidak hanya melulu mengaji saja, tetapi anak-anak juga saya berikan tanggung jawab misalnya menjalankan tugas piket. Dalam TPA saya membuat semacam jadwal piket agar anak-anak terbiasa untuk hidup bersih dan mencintai kebersihan. Seperti salah satu hadist yang selalu diajarkan di TPA kami, ‘Anadzofatu minal iman’, kebersihan itu sebagian dari iman.

Keempat, pemberian motivasi (targhib). Anak - anak harus dimotivasi agar mereka dapat terus berkembang dengan baik, salah satunya adalah dengan memberikan pujian ataupun hadiah. Motivasi ini sangat penting untuk menjaga mental anak agar selalu stabil. Saya jadi teringat, betapa sedihnya anak didik saya ketika dia tidak bisa mengerjakan soal yang saya berikan. Akhirnya saya janjikan padanya untuk memberikan hadiah di lain hari, dengan syarat dia harus belajar. Anak tersebu menjadi cerah air mukanya dan kembali bersemangat.

Kelima, pemberian sanksi hukuman (tarhib). Ini juga penting sekali untuk anak-anak. Kembali saya memberi contoh tentang keadaan TPA saya. Di TPA anak-anak sering mengejek satu sama lain, bahkan terkadang mengejek ustadzah yang mengajar. Pernah suatu ketia anak-anak memanggil saya ‘Mbak popi, cantik, cantik, cantik’. Saya pribadi sih enggak akan ge-er dengan panggilan seperti itu, karena artinya cantik = cacar bintik-bintik. Karena waktu itu saya sedang berjerawat T.T. Jadi memang ada peraturan tertulis di papan bahwa siapa yang melanggar aturan akan mendapatkan hukuman dari ustadzah. Biasanya sih saya hukum untuk menghafalkan surat atau hadist. 

Investasi Masa depan

Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah merahmati seorang yang membentu anaknya berbakti kepada-Nya. Dengan cara apa? 1) menerima yang sedikit darinya, 2) memaafkan yang menyulitkannya, 3) tidak membebaninya, 4) tidak memakinya. 

Karena anak adalah investasi masa depan, maka kita sebagai seorang pendidik anak (orang tua, guru, ustadzah) wajib menjaga anak agar selalu dalam ketaatan kepada Allah. Semoga kita semua diberikan amanah buah hati yang menentramkan, menyenangkan, dan terus menerus membuat kita sekalian selalu dalam Iman Islam. 

Wallahu’alam Bishowab. Semoga bermanfaat untuk pembaca sekalian dari saya yang masih miskin ilmu ini. :)